1.
Kader
a. Pengertian Kader
1) Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang
dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan
perseorangan maupun masyarakat serta untuk bekerja dalam hubungan yang amat
dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan (Syafrudin dan
Hamidah, 2009).
2) Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat (
Niken, dkk, 2009).
3) Kader adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dan
dari masyarakat yang bertugas mengembangkan masyarakat. ( Ferry dan Makhfudli,
2009).
4) Kader kesehatan yaitu tenaga yang berasal dari masyarakat, dipilih
oleh masyarakat itu sendiri dan bekerja secara sukarela untuk menjadi
penyelenggara posyandu (Fallen dan Budi,
2010)
b. Tujuan pembentukan kader
1)
Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional,
khususnya di bidang kesehatan, bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada
prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai objek tetapi merupakan subjek dari
pembangunan itu sendiri. Pada hakikatnya, kesehatan dipolakan mengikutsertakan
masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab.
2)
Keikutsertaan masyarakat dalam meningkatkan efisiensi
pelayanan adalah atas
dasar pemikiran bahwa terbatasnya
daya dan dana dalam operasional pelayanan kesehatan akan mendorong masyarakat
memanfaatkan sumber daya yang ada seoptimal mungkin. Pola pikir semacam ini
merupakan penjabaran dari karsa pertama yang berbunyi, meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan.
3)
Menurut
K. Santoso (1979), kader yang dinamis dengan pendidikan rata-rata tingkat desa
ternyata mampu melaksanakan beberapa kegiatan yang sederhana tetapi tetap
berguna bagi masyarakat kelompoknya (Ferry dan Makhfudli, 2009).
c. Dasar Pemikiran
1)
Dari
segi kemampuan masyarakat. Dalam rangka mesukseskan pembangunan nasional, khususnya dibidang kesehatan,
bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip bahwa masyarakat bukanlah
sebagai objek tetapi merupakan subjek dari pembangunan itu sendiri.
2)
Dari
segi kemasyarakatan . Perilaku kesehatan pada mesyarakat tidak terlepas dari
kebudayaan masyarakat itu sendiri. Dalam
upaya menumbuhkan partisipasi masyarakat perlu memperhatikan
keadaan sosial budaya masyarakat, sehingga untuk mengikutsertakan masyarakat dalam upaya dibidang kesehatan,
harus berusaha menumbuhkan kesadaran
untuk dapat memecahkan permasalahan sendiri dengan memperhitungkan sosial
budaya setempat (Fallen dan Budi, 2010).
d.
Persyaratan
menjadi kader
Para kader kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki
latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk
membaca, menulis dan menghitung secara sederhana (Niken, dkk, 2009). Proses
pemilihan kader hendaknya melalui musyawarah dengan masyarakat, dan para pamong
desa harus juga mendukung
(Fallen dan Budi, 2010). Hal ini disebabkan karena kader yang akan dibentuk
terlebih dahulu harus diberikan pelatihan
kader. Pelatihan kader ini diberikan
kepada para calon kader di desa
yang telah ditetapkan (Niken, dkk, 2009). Persyaratan umum
yang dapat dipertimbangkan untuk pemilihan kader antara lain:
1)
Dapat
baca, tulis dengan bahasa Indonesia
2)
Secara
fisik dapat melaksanakan tugas-tugas sebagai kader
3)
Mempunyai
penghasilan sendiri
4)
Tinggal
tetap di desa yang bersangkutan dan tidak sering meninggalkan tempat untuk
waktu yang lama.
5)
Aktif
dalam kegiatan sosial maupun pembangunan desanya
6)
Dikenal
masyarakat, diterima masyarakat dan dapat bekerja sama dengan masyarakat
7)
Berwibawa
8)
Sanggup
membina paling sedikit 10 kepala keluarga. (Budi, 2010).
Dari persyaratan-persyaratan yang
diutamakan oleh beberapa ahli di atas, dapatlah disimpulkan bahwa kriteria
pemilihan kader kesehatan antara lain sanggup bekerja secara sukarela, mendapat
kepercayaan dari masyarakat serta mempunyai kredibilitas yang baik dimana
perilakunya menjadi panutan masyarakat, memiliki jiwa pengabdian yang tinggi,
mempunyai penghasilan tetap, pandai membaca dan menulis, serta sanggup membina
masyarakat sekitarnya. (Ferry dan Makhfudli, 2009).
e. Peran kader
Tugas-tugas kader meliputi pelayanan
kesehatan dan pembangunan masyarakat, tetapi hanya terbatas pada bidang-bidang
atau tugas-tugas yang pernah diajarkan kepada mereka. Mereka harus benar-benar
menyadari tentang keterbatasan yang mereka miliki. Mereka tidak diharapkan
mampu menyelesaikan semua masalah yang dihadapinya. Namun, mereka diharapkan
mampu dalam menyelesaikan masalah umum yang terjadi di masyarakat dan mendesak
untuk diselesaikan. Perlu ditekankan bahwa para kader kesehatan masyarakat itu
tidak bekerja dalam sistem yang tertutup, tetapi mereka bekerja dan berperan
sebagai seorang pelaku sistem kesehatan. Oleh karena itu, mereka harus dibina,
dituntun, serta didukung oleh pembimbing yang terampil dan berpengalaman
(Syafrudin dan Hamidah, 2009).
f. Kader Kesehatan Jiwa
Kader kesehatan jiwa adalah kader
yang dapat membantu masyarakat mencapai
kesehatan jiwa yang optimal melalui penggerakan masyarakat untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan jiwa serta memantau
kondisi kesehatan jiwa
masyarakat di wilayahnya (Keliat,2007)
g. Peran Kader Kesehatan Jiwa
Kader kesehatan
jiwa berperan serta dalam meningkatkan,
memelihara dan mempertahankan kesehatan jiwa masyarakat (Keliat,2007)
h. Tugas Pokok kader Kesehatan Jiwa
1)
Melaksanakan
program Desa Siaga Sehat Jiwa
2)
Melakukan
deteksi keluarga sehat, keluarga yang beresiko mengalami masalah psikososial,
dan keluarga dengan gangguan jiwa di masyarakat
3)
Menggerakkan individu, keluarga, dan kelompok sehat jiwa
untuk mengikuti pendidikan kesehatan jiwa
4)
Menggerakkan individu, keluarga,dan kelompok yang beresiko mengalami masalah
psikososial untuk mengikuti pendidikan
kesehatan jiwa
5)
Menggerakkan individu, keluarga,dan kelompok yang mengalami gangguan jiwa untuk mengikuti pendidikan kesehatan jiwa
6)
Menggerakkan
pasien gangguan jiwa untuk mengikuti terapi aktifitas kelompok (TAK) dan
rehabilitasi
7)
Melakukan
kunjungan rumah pada pasien yang telah mandiri
8)
Melakukan rujukan kasus masalah psikososial atau
gangguan jiwa pada perawat CMHN atau puskesmas
Membuat dokumentasi kegiatan kader jiwa dan
perkembangan kondisi kesehatan jiwa pasien (Keliat, 2007)
very good info, should be read..
BalasHapus*MN